PELUNCURAN, SEMINAR DAN WORKSHOP KAMUS ELEKTRONIK INGGRIS-INDONESIA BAGI TUNANETRA

Dewi Agushinta R.

 

Kamus normal untuk para tunanetra itu bisa mencapai 72 volume. Dengan adanya electronic dictionary (kamus elektronik) pemakaiannya akan sangat efisien dan efektif.

Berangkat dari keingintahuan sebagai dosen mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer, Penulis mengikuti kegiatan ini. Kegiatan ini diadakan saat Jakarta mulai dilanda banjir, tanggal 30 Januari 2002 yang lalu. Tempatnya di Assembly Hall Plaza Bapindo. Ada pun acara yang seharusnya mulai jam 09.00 tertunda 50 menit karena lalu lintas yang sulit (karena banjir tentunya). Penyelenggara kegiatan ini adalah Yayasan Mitra Netra bekerja sama dengan Citibank Peka (peduli dan berkarya). Peserta dari kegiatan ini adalah wakil-wakil dari SLB-A seluruh Indonesia, organisasi-organisasi non profit, press dan undangan.

Acara pertama adalah peluncuran dari kamus elektronik Inggris-Indonesia bagi tunanetra. Sambutan pertama adalah dari ketua yayasan Bapak Lukman Nazir,Tex.Ing, dilanjutkan sambutan dari Country Corporate Officer of Citibank, Bapak Michael Zink. Beliau mengatakan bahwa membuat program itu mudah, tetapi yang sulit adalah bagaimana menciptakan sesuatu yang sedang dibutuhkan. Kemudian sambutan dari Menteri Pendidikan Nasional yang diwakilkan oleh Bapak Indrajit Sidi dengan tajuk "Education for Odd". Beliau menghimbau private sector untuk ikut membangun kerjasama dalam penelitian dan pengembangan teknologi untuk mereka yang memiliki kekurangan (tuna) di bidang pendidikan maupun ketenagakerjaan. Dilanjutkan dengan peragaan penggunaan software kamus Inggris-Indonesia bagi tunanetra oleh Bapak Sudiyo. Software ini dikerjakan selama 2 tahun lamanya dengan pemrogram relawan dari Citibank peka. Dengan menggunakan SDM dan teknologi yang dimiliki Citibank serta tambahan software speech synthesizer, software yang dinamakan Mitranetra Electronic Dictionary (MELDICT) ini berhasil dibuat untuk para tunanetra dan dipatenkan dari Cornell University. Biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan software ini sekitar 400 juta rupiah. Peluncuran ditutup dengan penyerahan paket kamus elektronik Inggris-Indonesia bagi tunanetra secara simbolis kepada wakil lembaga ketunanetraan dan beberapa organisasi non profit. Ada hampir 300 CD yang dibagikan.

Seminar dengan tema Perkembangan Teknologi dan pendidikan bagi Tunanetra diawali dengan Bapak RM Roy Suryo dengan makalahnya Peran Teknologi Informasi dalam Pengembangan Teknologi bagi Tunanetra. Dalam makalahnya diterangkan tentang komunikasi informasi dari sebelum tahun 50-an hingga sekarang dan mendatang, pengembangan SDM, konvergensi internet multimedia dan ragam teknologi yang ada. Di masa mendatang, beliau mengatakan bahwa semuanya akan serba E, e-future, e-trade, e-business, e-service dan seterusnya. Dan sekarang pun kita sudah bisa mengamati, munculnya komunikasi pita lebar (broadband) untuk transmisi data kecepatan tinggi. Pembicara kedua adalah Bapak Richard yang mewakili Bapak Nasichin, Direktur Pendidikan Luar Biasa. Dalam makalahnya Implikasi Perkembangan Teknologi Terhadap Kebijakan di Bidang Pendidikan bagi Tunanetra beliau menggarisbawahi bahwa penelitian jangan dijadikan sebagai tujuan, tetapi penelitian digunakan sebagai alat. Tujuannya adalah untuk kesejahteraan masyarakat. Kualitas output dari suatu lembaga pendidikan sangat tergantung pada input, proses dan output yang berlangsung dalam lembaga tersebut. Lembaga yang ada perlu dilengkapi dengan sarana prasarana penunjang dimaksud dan mekanisme antar lembaga dari tingkat pusat sampai propinsi maupun kabupaten diperkuat dengan jaringan kerja yang jelas dan ditangani oleh orang-orang yang betul-betul berlatar belakang pendidikan luar biasa dan berkompetensi untuk itu. Pendidikan luar biasa adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan semua potensi kemanusiaan peserta didik luar biasa baik yang menyandang ketunaan maupun yang dikaruniai keunggulan (berkebutuhan khusus) secara optimal dan terintegrasi agar bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Dengan bertambahnya jumlah lembaga pendidikan luar biasa dan semakin meningkatnya peran serta masyarakat merupakan salah satu indikator keberhasilan dalam upaya pemerataan kesempatan belajar bagi anak berkebutuhan khusus dalam rangka penuntasan wajib belajar pendidikan belajar 9 tahun.

Pemanfaatan Perkembangan Teknologi Bagi Peningkatan Kualitas Sarana Pendidikan Peserta Didik Tuna Netra adalh tema yang dibawakan oleh Bapak Sulistyo sebagai direktur P3TIE, BPPT sebagai pembicara yang ketiga. Sebagai orang BPPT, beliau mengatakan bahwa BPPT berupaya untuk menaggulangi kesenjangan informasi yang terjadi dengan mengembangkan teknologi produk adaptif untuk keperluan masyarakat khususnya tuna netra. Teknologi yang dibuat merupakan pengembangan alat bantu yaitu teknologi pengenalan huruf (character recognition) dan Artificial Neural Network. BPPT telah berhasil membuat teknologi Text To Speech (TTS) dimana deretan huruf dapat disintesa sebagai kalimat dan selanjutnya diubah menjadi suara. Dengan perpaduan teknologi character recognition dan TTS ini membuka peluang bagi para tunanetra untuk dapat membaca buku-buku ilmiah pengetahuan populer yang tidak tertulis dalam huruf Braille dimana informasi yang tertulis akan ditransfer ke informasi berupa suara. Saat beliau berbicara, BPPT sedang melakukan pengembangan TTS untuk dapat mengenal tanda-tanda baca dan simbol-simbol khusus.

Seminar ditutup oleh Bapak Bambang Basuki selaku direktur eksekutif dan Yayasan Mitra Netra dengan makalah Pemanfaatan Dan Pengembangan Teknologi Bagi Tunanetra di Indonesia. Sekurang-kurangnya ada tujuh kegiatan pokok yang perlu dikembangkan di Indonesia agar tunanetra di Indonesia dapat memanfaatkan kehadiran teknologi komputer untuk meningkatkan kualitas kehidupannya, yaitu penelitian dan pengembangan peralatan dan materi pelatihan, pelatihan instruktur dan teknisi, pengadaan peralatan, jasa perawatan dan perbaikan, pelatihan dan pendidikan komputer bagi tunanetra, penyiapan dan penyaluran kerja serta jaringan informasi dan kerjasama.

Acara terakhir adalah workshop untuk mengenal software MELDICT ini. Ada pun interface dari MELDICT sangat sederhana. Hanya dengan bahasa pemrograman Visual Basic ditambah dengan software speech synthesizer untuk bahasa Indonesia, para pemrogram dari CITIBANK peka berhasil membuat program tersebut. Sangat sederhana sekali sampai Penulis tidak mempercayai bahwa software tersebut sangat membantu para tunanetra dalam hal pencarian arti kata dalam bahasa Inggris.

Sungguh mengagumkan ..